Kutai Timur,– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melaporkan bahwa intensitas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayahnya berada dalam kondisi terkendali dan tidak signifikan. Penurunan drastis ini diklaim terjadi berkat dukungan faktor cuaca, seiring dengan masuknya wilayah Kutim ke fase musim penghujan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengungkapkan bahwa laporan Karhutla yang masuk kepada pihaknya dalam beberapa bulan terakhir sangat minim.
“Alhamdulillah dari data yang ada, laporan yang ada yang masuk dengan kami, terakhir itu yang kejadian besar hanya di Bengalon, yang sekitar 3 sampai 4 hektar, berapa bulan yang lalu,” jelas Naim
Naim menambahkan bahwa hampir seluruh kecamatan di Kutim tidak melaporkan adanya kejadian Karhutla. Kalaupun terjadi, skalanya sangat kecil dan dapat ditangani secara mandiri oleh tim di tingkat kecamatan atau masyarakat setempat.
Ia meyakini, faktor utama di balik menurunnya frekuensi dan tingkat keparahan Karhutla adalah perubahan iklim lokal.
“Ya mungkin karena kita sudah masuk fase hujan ya. Masuk musim penghujan sehingga Karhutla tidak terlalu signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Naim.
Meskipun demikian, BPBD tetap memantau seluruh 18 kecamatan melalui pembagian wilayah pengawasan di antara tim internalnya.
Dengan masuknya musim penghujan, BPBD Kutim kini mengalihkan fokus kewaspadaan bencana. Naim menjelaskan, dari kajian kebencanaan yang telah dibuat, dominasi bencana di Kutim terbagi menjadi dua: Karhutla saat musim kemarau, dan Banjir saat musim penghujan.
Oleh karena itu, meskipun lega karena ancaman Karhutla mereda, BPBD tetap siaga penuh menghadapi risiko hidrometeorologi, yang berpotensi menimbulkan bencana banjir di sejumlah wilayah rawan di Kutai Timur.(ADV)
BPBD Kutim Nyatakan Karhutla Terkendali Berkat Musim Hujan







