Camat Sangatta Utara Hasdiah Dohi: Sinergi Data dan Rumah Rehab Gizi Jadi Kunci Penurunan Stunting

Kutai Timur, – Pemerintah Kecamatan Sangatta Utara terus memperkuat langkah dalam menekan angka stunting di wilayahnya. Salah satu fokus utama adalah memastikan sinkronisasi data dan memperbaiki sistem koordinasi antara pihak kecamatan, desa, puskesmas, serta kader pendamping masyarakat (KPM). Langkah ini dilakukan agar penanganan kasus stunting dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, mengungkapkan bahwa persoalan utama dalam penanganan stunting sebelumnya terletak pada ketidaksinkronan data antarinstansi. “Awalnya permasalahannya itu di data. Data antara puskesmas, desa, dan KPM tidak pernah sama. Saat rapat, sering muncul perbedaan data hingga terjadi perdebatan. Karena itu, kami membuat SOP baru untuk mengatur alurnya agar satu data,” jelasnya, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Melalui koordinasi intensif, pihak kecamatan berhasil menyusun sistem pelaporan terpadu. Kini, seluruh laporan stunting dikumpulkan melalui satu pintu di kecamatan sebelum disampaikan ke kabupaten.

“Alhamdulillah, setelah duduk bersama dan menyepakati alur pelaporan, kami bisa dapat satu data. Setiap tanggal 10, desa wajib melaporkan ke kecamatan, sehingga tidak ada lagi data ganda atau tumpang tindih,” ujar Hasdiah.

Selain memperkuat sistem data, Kecamatan Sangatta Utara juga meluncurkan inisiatif baru berupa Rumah Rehab Gizi, yang menjadi pusat pemantauan dan penanganan anak berisiko stunting. Program ini terlaksana berkat dukungan penuh dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Saat ini kami sedang dalam tahap pematangan lahan. Rumah rehab gizi ini akan menjadi tempat khusus untuk anak-anak yang berisiko stunting,” kata Hasdiah.

Berbeda dari pola lama di mana Pemberian Makanan Tambahan (PMT) diantarkan ke rumah masing-masing, kini orang tua diwajibkan membawa anak mereka ke rumah rehab gizi.

“Selama ini PMT dikirim ke rumah, tapi kami tidak bisa memastikan anak itu benar-benar makan. Sekarang sistemnya dibalik anaknya yang datang. Mereka diberi makan langsung di rumah rehab sambil dipantau pertumbuhannya,” ujarnya.

Anak-anak peserta akan mendapatkan makanan bergizi yang dimasak langsung di rumah rehab, sementara para orang tua akan mendapatkan pendampingan dan edukasi gizi. “Kebanyakan kasus stunting di Sangatta Utara bukan karena ekonomi, tapi karena pola asuh yang kurang tepat. Jadi anaknya kami kasih makan, sementara orang tuanya kami beri edukasi,” tutur Hasdiah.

Selain anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang, orang tua juga memahami pentingnya pola makan, kebersihan, dan stimulasi tumbuh kembang anak.

“Kami ingin tingkat keberhasilan penanganan stunting meningkat, tidak lagi di angka kecil seperti sebelumnya,” tambahnya.

Hasdiah menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting memerlukan kolaborasi semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan, perangkat desa, hingga masyarakat. Dengan sistem satu data dan program Rumah Rehab Gizi, Kecamatan Sangatta Utara optimistis mampu menekan angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

“Mudah-mudahan langkah ini berhasil dan bisa menjadi contoh bagi kecamatan lain,” pungkasnya. (ADV)

Pos terkait