Malam di Sangatta Selatan itu terasa lebih hangat dari biasanya. Di sebuah pertemuan sederhana, warga duduk berdekatan, sebagian masih memakai seragam kerja, menandakan mereka datang langsung setelah aktivitas harian. Ketika H. Agus Aras, S.M., M.Ap, tiba ditempat, suasana berubah jadi lebih tenang—legislator yang dikenal dekat dengan warga itu disambut hangat oleh puluhan peserta.
Bagi dia, malam itu bukan sekadar agenda sosialisasi. Ia menyebutnya sebagai “pertemuan pertama” yang diharapkannya menjadi jembatan komunikasi jangka panjang. Dengan nada santai namun terukur, ia memperkenalkan dirinya kembali—anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur periode 2024–2029, memasuki masa jabatan keduanya, mewakili Dapil 6 yang mencakup Bontang, Kutai Timur, dan Berau.
Meski telah lama dikenal warga, ia merasa perlu kembali menjelaskan tugasnya di parlemen. “Fungsi kami ada tiga: membuat perda, mengawasi program, dan memastikan anggaran berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya. Namun pada malam itu, ia ingin fokus pada satu hal: ketahanan keluarga.
Perda Nomor 2 Tahun 2022 menjadi alasan utama ia hadir di tengah warga. Dengan bahasa yang mudah dipahami, ia menggambarkan regulasi itu sebagai payung besar yang menaungi banyak kebutuhan dasar keluarga—pendidikan, kesehatan, pekerjaan, hingga akses pembiayaan pembangunan keluarga.
“Di dalam perda ini ada 13 bab dan 36 pasal. Intinya, pemerintah punya kewajiban hadir untuk memperkuat fondasi keluarga,” ucapnya sambil sesekali menatap warga satu per satu.
Untuk memperdalam materi, tak tanggung H. Agus Aras, S. M., M. Ap, menghadirkan Ani Saida, sosok yang sehari-hari berkutat dengan persoalan masyarakat Kutai Timur, termasuk penanganan stunting. Warga malam itu menatap serius ketika Agus menjelaskan bagaimana pemprov mengirim bantuan keuangan ke kabupaten/kota untuk mendukung program-program penurunan stunting.
Namun pertemuan tak berhenti pada soal regulasi. Di sisi lain, perbincangan mengalir pada isu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: pendidikan anak-anak. Agus bercerita tentang perjuangannya mengawal berdirinya SMA Negeri 2 Sangatta Selatan—sebuah kebutuhan yang sudah lama didorong masyarakat.
“Setiap tahun ada anak-anak kita yang tidak tertampung di SMA negeri. Tahun lalu datanya sampai 500 lebih,” katanya. “Itu tidak bisa dibiarkan.”
Ia menuturkan bagaimana izin operasional sekolah itu akhirnya keluar, bagaimana lahan dua hektare disiapkan, hingga bagaimana renovasi dan pembangunan fisik akan berjalan mulai tahun depan. Bahkan di Sangatta Utara, SMA Negeri 3 akan segera menyusul.
legislator Patrai Demokrat tersebut tampak berbicara bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai seorang ayah, tetangga, dan bagian dari komunitas yang sama. Suaranya terdengar lebih lembut ketika ia menyampaikan harapannya: agar anak-anak Kutai Timur mampu bersaing, termasuk di Ibu Kota Nusantara yang terus berkembang.
Menjelang penutupan, ia mengucapkan terima kasih. Bukan sekadar basa-basi, tetapi ucapan yang terasa dari hati. Ia berharap pertemuan malam itu menjadi awal sinergi yang lebih erat antara masyarakat dan DPRD.
“Insyaallah, mari kita terus bekerja sama,” tutupnya sebelum mengakhiri dengan salam.
Di luar ruangan, udara malam Sangatta Selatan terasa lebih dingin. Namun bagi warga yang baru saja mengikuti pertemuan itu, ada hangat harapan baru—bahwa urusan pembangunan keluarga, pendidikan, dan masa depan anak-anak mereka tidak berjalan sendiri, melainkan dikawal oleh orang yang mereka temui malam itu.
terdengar lebih lembut ketika ia menyampaikan harapannya: agar anak-anak Kutai Timur mampu bersaing, termasuk di Ibu Kota Nusantara yang terus berkembang.
Menjelang penutupan, ia mengucapkan terima kasih. Bukan sekadar basa-basi, tetapi ucapan yang terasa dari hati. Ia berharap pertemuan malam itu menjadi awal sinergi yang lebih erat antara masyarakat dan DPRD.
“Insyaallah, mari kita terus bekerja sama,” tutupnya sebelum mengakhiri dengan salam.
Di luar ruangan, udara malam Sangatta Selatan terasa lebih dingin. Namun bagi warga yang baru saja mengikuti pertemuan itu, ada hangat harapan baru—bahwa urusan pembangunan keluarga, pendidikan, dan masa depan anak-anak mereka tidak berjalan sendiri, melainkan dikawal oleh orang yang mereka temui malam itu.(One)







