‎Target Ambisius: Kutai Timur Dorong SITISEK untuk Eliminasi Anak Tidak Sekolah dalam Waktu Setahun

‎Sangatta, – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah mengambil langkah tegas dan strategis dalam menghadapi isu krusial Anak Tidak Sekolah (ATS). Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Pemkab Kutim memperkenalkan sebuah inisiatif bernama Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK).

‎Peluncuran resmi program SITISEK ini dilaksanakan di Hotel Royal Victoria, menjadi wadah bagi Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, untuk menegaskan komitmennya. Secara eksplisit, Bupati Ardiansyah menetapkan tenggat waktu yang ketat: penyelesaian tuntas masalah ATS di Kutim harus dicapai dalam kurun waktu 12 bulan.‎

‎“Saya perintahkan kepada Disdikbud, kepada Pak Mulyono, targetnya harus diselesaikan dalam satu tahun ini,” tegas Bupati Ardiansyah.

‎Selain penetapan target waktu, Bupati juga mendesak agar regulasi pendukung segera disiapkan, terutama percepatan penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Wajib Belajar 13 Tahun.‎

‎Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa strategi SITISEK merupakan respons penting terhadap data ATS yang terlampau tinggi dari Pusdatin. Strategi yang disusun berkolaborasi dengan Tim Kajian dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini berdiri di atas tiga landasan utam
‎1. Pemurnian dan Validasi Data.
‎2. Pencegahan Dini.
‎3. Ketersediaan Akses Alternatif.

‎Menanggapi arahan Bupati, Mulyono memastikan bahwa draf Perbup Wajib Belajar 13 Tahun (meliputi jenjang PAUD hingga SMA/SMK) tengah memasuki tahap finalisasi. Penyusunan draf ini didampingi oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan ditargetkan rampung pada awal tahun depan. Poin pembahasan utama saat ini adalah perumusan sanksi atau konsekuensi bagi masyarakat yang mengabaikan program wajib belajar tersebut.‎

‎Dari sisi infrastruktur, Kutim dinilai sangat siap. Tercatat ketersediaan lembaga PAUD mencapai angka 380 hingga 400 unit, melampaui jumlah 139 desa yang dimiliki Kutim.

‎“Saat ini, Kutim adalah satu-satunya wilayah yang angka [ATS]-nya mengalami penurunan, dan penurunannya signifikan,” tegas Mulyono.
‎‎
‎Sementara itu, Ketua Tim Kajian UNY, Sabar Nurohman, menambahkan bahwa timnya juga akan menyediakan program pendampingan yang lebih spesifik, termasuk bimbingan khusus bagi orang tua, yang bertujuan untuk mengubah pola pikir yang seringkali menjadi penghalang bagi anak untuk mengakses pendidikan.(ADV).

Pos terkait