KUTAI TIMUR – Kasus kebakaran di Muara Bengkal kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur (Kutim) dalam hal kecepatan respons, terutama untuk lokasi yang jauh dari pusat kabupaten.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengakui bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) dari BPBD Kabupaten belum dapat segera bergerak ke lokasi kejadian karena musibah tersebut terjadi pada malam hari dan di luar hari kerja.
Kendala Jarak Hambat Respon Kabupaten
Naim menyoroti bahwa keterbatasan geografis dan jarak yang jauh menjadi hambatan utama dalam penanganan bencana.
”Karena kalau mengharapkan kabupaten kan kita bisa lihat sendiri, bayangkan jauhnya jarak kabupaten dengan Muara Bengkal,” ujar Naim belum lama ini
Meskipun demikian, Naim mengapresiasi upaya tanggap darurat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan, yang terbukti sigap mendirikan posko di lokasi.
Kondisi ini menjadi momentum bagi BPBD Kutim untuk mempercepat solusi jangka panjang, yaitu pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) Multisektor di tingkat kecamatan. Naim berharap TRC kecamatan dapat menjadi ujung tombak penanganan bencana awal di wilayahnya masing-masing.
”Harapan saya sebenarnya semua kecamatan pada saat 2024 kita melakukan pelatihan, kami sudah sampaikan [untuk membentuk TRC],” kata Naim.
Menurutnya, tim TRC kecamatan ini akan lebih efektif dalam melakukan kajian, perhitungan, dan penanganan awal di lokasi bencana karena kedekatan geografis.
”Sehingga mereka-mereka inilah yang lebih awal mengkaji, menghitung dan lain sebagainya di lokasi yang terjadi bencana,” tambahnya.
BPBD Kutim berencana untuk kembali memanggil seluruh perwakilan kecamatan pada tahun 2026 untuk memperkuat inisiatif ini. Diharapkan kehadiran Camat dan narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat memberikan penjelasan yang lebih komprehensif, memotivasi, dan mempercepat pembentukan TRC di seluruh kecamatan Kutim. (ADV)







